Pada hari Senin pagi, kami
berkenalan dengan Abel dikelas matematika. Bapak Raka, si guru militeris,
meminta cowok itu berdiri dan memberi hormat ketika memperkenalkannya.
“ Prayoga Abel?” panggil
Bapak Raka dengan suara rendah, seolah – olah dia pernah menjadi seorang letnan
tentara. Bapak Raka yang selalu tampil rapi dengan baju yang dimasukan dalam
celana dan ikat pingang kulit yang digunakan, menunjukan bahwa ia sangat ingin
terlihat hebat walaupun ikat pinggang itu lebih terlihat seperti mengikat kuat
pinggang nya.
“ Disini “ jawab cowok itu.
Aku menoleh dan melihat cowok
itu duduk dibagian belakang dekat jendela. Rambutnya yang hitam agak
kecokelatan tebal, sangat pendek dan hampir seperti duri. Kulitnya yang juga
agak kecokelatan tetapi masih lebih baik dibanding kulit anak cowok lainnya di
kelas.
“ Berdiri “ perintah Bapak Raka.
Sekarang semua menoleh
padanya. Tubuhnya tinggi , mungkin sekitar 172 sentimeter dan tidak terlalu
kurus. Walaupun aku sedang menatapnya, aku berharap tidak melakukannya. Karena
aku tahu bagaimana rasanya ketika 35 pasang mata tertuju padamu dan tidak
melepaskan pandangan darimu sedetik pun. Aku membencinya .
“ Prita Chyntia “ panggil Pak
Raka.
Aku sedang berkonsentrasi
pada buku yang menurutku lebih menarik dibandingkan cowok baru, bernama Abel
yang namanya terdengar hampir seperti
nama seorang gadis, dan aku harus tersentak karena panggilan guru tadi,
Apa kesalahan yang ku perbuat sehingga Guru militeris ini memanggilku?
“ Sekarang juga kau pindah ke
pojok dekat jendela “ kata Pak Raka.
Dalam hati, aku benar-benar
mengumpatnya, kenapa harus aku yang dipindah? Apa karena di kelas ini
menggunakan abjad nama untuk menentukan denah tempat duduk nya. Atau karena
nama nya adalah Prayoga dan kebetulan namaku adalah Prita.
“untuk saat ini lebih baik
ikuti saja apa yang dia minta, setelah kelasnya berakhir kita ubah denahnya
lagi” bisik Siska
Siska Putri Sartika adalah
temanku, teman baikku yang menguasai banyak rumus matematika di kepalanya,
bahkan menurutku geografi dan sejarah lebih menarik dibanding matematika yang
harus menghafal rumus.
Bell istirahat kedua aku
segera bergegas pergi ke ruang “ Kose “, itu adalah ruangan dimana aku dan
Siska bekerja sebagai anggota “Koran sekolah “ yang di singkat menjadi kose,
agak aneh memang tapi aku dan Siska memiliki kolom andalan sendiri berjudul “
Cuz Why?” yang membahas segala permasalahan yang patut dipertanyakan.
“Hei , hei kau tunggu dulu,
tunggu” teriak seseorang dari kejauhan.
Aku menoleh karena penasaran
siapa yang dipanggil oleh orang yang baru saja jadi sorotan di sekolah pagi ini.
Tidak, dia memanggilku? Maksudku Abel anak baru itu, dia memanggilku .
“Siapa yang kau panggil ‘hei’
tadi? Apa yang kau panggil itu aku? “ kataku pada Abel saat ia sampai
didekatku.
“ Tentu saja kau, apa kau
bekerja di Koran sekolah juga? Apa masih ada tempat untukku mendaftar menjadi
anggota?” balasnya.
Aku sedikit bingung. Apa yang
dia maksudkan. Masih ada tempat untuk nya? Dia ingin mendaftar menjadi anggota
Koran sekolah.
Sore hari yang menyebalkan,
aku hanya bisa bermain dengan Max, anjing kecilku yang di belikan ayah sewaktu
aku berulang tahun yang ke 12 di taman dekat rumah. Rumah itu mulai ada yang
menempati, maksudku rumah kosong di dekat taman.
“ Hai , boleh kenalan? “
teriak cowok itu dari kejauhan.
Apa yang sedang ia lakukan
disini? Apa dia membuntutiku hanya untuk mendapatkan formulir pendaftaran
anggota Koran sekolah? Dia sudah gila pasti.
“ Ohh kau Prita, kalau aku
tidak salah ingat namamu benar Prita kan. Aku tinggal di rumah dekat taman ini,
kau juga tinggal disini? Rumahmu diblok berapa? “ balasnya.
“ Jadi rumah itu kau yang menempati?
Kau satu perumahan denganku begitu?” kataku dengan wajah yang kelihatan
terkejut.
Keesokan paginya aku bertemu dengan
Abel, saat melihatku dia langsung menunjukan deretan giginya yang indah dan
rapi, lalu berlari kecil. Dan sekarang ia tepat berada di sampingku, berjalan
denganku menuju ruang Kose. Aku baru tahu kalau dia diterima sebagai anggota
Koran sekolah pagi ini dari anggota lain,
dan sangat mengejutkan, ia akan bekerja denganku di kolom Cuz Why?
Kita mulai sering bersama setelah ia
bekerja denganku di kolom Cuz Why? Ditambah rumah Abel dan aku berada di satu
perumahan yang sama. Dan tentang Siska belakangan ini dia sering mengikuti
olimpiade matematika. Jadi ini seperti malapetaka untukku karena harus bekerja
dengan Abel. Setelah pulang sekolah, aku dan Abel janjian untuk mengerjakan
sebuah masalah yang akan dicantumkan dikoran sekolah untuk edisi minggu ini.
“ Dimana orang tuamu?” tanyanya
sesampai di rumahku.
“ Ayahku sedang bekerja, mungkin
pulang sekitar jam 5 sore ini “ balasku
“ Lalu ibumu? “ tanyanya polos.
“ Ibu? Ibuku meninggal saat aku
berumur 7 tahun, yah dia sudah meninggal
“ ucapku
“ Maafkan aku, aku tidak tahu kalau
ibumu sudah meninggal “ jawabnya dengan muka menyesal karena menanyakan tentang
ibuku.
“ Tidak apa, itu sudah lama terjadi.
Kau tidak perlu meminta maaf hanya karena menanyakan tentang ibuku. Aku merasa
menjadi orang yang sangat menyedihkan karena kehilangan seorang ibu diumurku
yang bisa dibilang masih sangat dini. Bahkan terkadang aku merasa diriku ini
seperti menutup diri dari banyak orang diluar sana.” Ujarku tanpa sadar telah
bercerita seperti itu kepada Abel.
Malam ini, membaca novel dan
mendengarkan music via iPod sepertinya menjadi menarik untukku. Entah karena
apa, baru sore ini aku bertemu dengan Abel, tapi malam ini aku seperti sangat
merindukannya. Ku letakkan novel itu, dan berpikir untuk jalan-jalan ke taman
sekedar menghirup udara malam dan menyegarkan pikiranku dari seseorang yang
bernama Abel.
“ Apa sebenarnya yang aku pikirkan, kenapa orang itu sekarang
selalu ada dalam otakku? Aku tidak mungkin menyukainya, selain itu sepertinya
baru beberapa minggu ini aku selalu berjalan dengannya disekolah.” Ucapku
sambil berjalan menuju kursi taman.
Tidak!!! Tidak mungkin, aku sangat
membencinya, mana mungkin aku menyukai orang seperti dia. Pasti ada yang salah
dengan otakku. Aku memukul kepalaku sendiri, masih tidak percaya. Saat itu juga,
tanpaku sadari seseorang sedang berjalan kearahku, dan orang itu adalah Abel.
“ Apa yang sedang dilakukan nona
semanis dirimu disini malam-malam begini ?” bisiknya
“ Nona semanis diriku, apa kau
sedang merayuku? “—“ Sedang menghirup udara malam, sangat membosankan sekali berada dirumah diakhir pekan seperti ini” jawabku.
Sempat terdengar hening beberapa
saat, sampai pada akhirnya Abel ikut duduk di kursi taman, lebih tepatnya di
sampingku dan mulai mengajukan sebuah pertanyaan.
“ Aku ingin menceritakan sebuah
cerita padamu, apa kau mau mendengarkannya?” ucap Abel padaku sambil menatap
kearah wajahku.
Dia bercerita tentang seseorang yang
sangat ia suka saat ini, saat dia masuk sekolah ini tepatnya. Gadis yang sangat
beruntung karena dapat disukai oleh seorang Abel, bahkan aku, seorang gadis
yang membencinya hanya karena mengacaukan tempat dudukku di kelas pada saat
kelas matematika pun, mulai menyukainya. Ya aku rasa aku mulai menyukai. Duduk
berdua dengan dia ditaman, dikursi panjang dan saling berdekatan, akan sangat
disayangkan bila kau tidak dapat melihat bulu matanya yang lentik, hidungnya
yang mancung, mata bulat yang agak kecokelatan bila terena sinar dan badan
bidang yang dapat benar-benar kau lihat walau tanpa harus menyuruhnya membuka
baju, satu lagi yang harus kalian tahu dia selalu membuat kalian merasa nyaman
berada didekatnya.
“ Aku mau bilang, aku menyukaimu
dari awal aku masuk kelas, dan aku makin menyukaimu karena ternyata kau satu
perumahan denganku, itu mempermudahku untuk bisa selalu melihatmu bermain
ditaman ini dengan anjing kecilmu yang lucu itu” ucapnya serius
Dan semua yang dia ucapkan itu
membuatku merasa senang, marah, terkejut, bersalah, bangga, semuanya. Cerita
yang baru saja diceritakannya semua ini adalah tentangku, gadis dalam cerita
itu adalah aku.
“ Maukah kau menjalin hubungan
denganku? Hubungan yang lebih dari sekedar teman, aku ingin menjagamu,
mendengarkan semua kisah sedih atau pun suka darimu”
“Aku membencimu saat kau datang dan
merebut bangkuku, ya aku juga menyukaimu” balasku
Dan kisah bahagiaku ku mulai lagi
dari saat itu. Aku bahagia mempunyai Abel dan Siska, dan untuk ibuku , semoga
kau juga bahagia disana, aku mendoakanmu selalu ibu.